Heming #1
Aku Tidak Menyukai Syair!
Sebelum menguliti lebih lanjut mengenai syair, izinkan untuk menulis kutipan yang diambil dari pengantar buku “Syair Balada Raja Manglaya”.
“… kita tidak mudah untuk memahami makna dan kisahan yang dibawakannya.
Sebelum jauh membongkar makna,
sebaiknya kita nikmati terlebih dahulu permainan kata
yang dirangkai membentuk rima dan irama yang asyik untuk dibaca.”
(Ismail Kusmayadi, v)
Tidak mudah untuk saya dalam menyelami dan memahami syair (puisi lama), saya, atau mungkin kebanyakan orang (penulis ataupun bukan penulis) lebih apatis pada diksi yang terlihat rumit dan cenderung berputar-putar – lalu lupa bahwa kita adalah personalitas diri yang harus jatuh pada belajar seumur hidup, dan itu saya sadari saat membaca salah satu syair berjudul Syair Balada Adinda Mangi (Hal 6-7). Jika hanya menyimak permainan rima dan irama tentunya puisi modern lebih atraktif. Tapi ini balada, diksinya menutup cerita dan mengekang makna yang ditumpahruahkan oleh penyair.
Mencipta dan menulis puisi sebagai teks kreatif, agaknya merupakan urusan yang soliter; kita mengisolasi diri dari dunia asal dan masuk ke semesta ingatan. Itulah kenapa banyak penulis puisi pemula lebih ingin membebaskan dirinya dari diksi yang terikat dengan makna daripada rima serta irama yang cenderung menjadi beban untuk puisi modern. Dan syair haruslah memiliki semuanya, termasuk makna yang menjadi entitas dari sebuah syair.
Ketika membaca syair milik Anisa, yang ditemukan adalah resiko yang sangat besar dan mempertanyakan pilihannya, misalnya: kenapa harus syair? Apa bisa diksi-diksi bias ini berdiri di tengah zaman yang dipenuhi para milenial apatis dan ego hedonis para-Z? Tentu, itu bisa menjungkirbalikkan intensi sadar secara subtil yang tidak segagasan dengan orang kebanyakan. Jika demikian, ternyata kita bukanlah pembelajar yang baik –
Syair yang dibentuk dengan pemilihan diksi dan terikat dengan a dan b dan c dan seterusnya terkesan tidak menyediakan ruang ekspresi bagi si penyair. Tidak demikian dengan saat membaca syair-syair Anisa, elemen yang secara spontan bergegas keluar dari semesta kepenyairan yang paling rahasia. Kita menyaksikan bagaimana upaya Anisa memadukan yang nalar dan yang tak nalar, pikiran dan intuisi, fantasi, dan akhirnya menyediakan ruang bagi kita untuk menjelajahi masa lalu kembali ke masa depan; melintasi legenda dan mitos dan ujungnya kita dibawa melihat kemanusiaan itu sendiri.
Setelah membaca beberapa syair kita menemukan diri kita yang masih asing dengan diri kita sendiri, yang acap membesarkan ego. Dengan membacanya baik-baik, kita pun akan mendapatkan raut muka kita sendiri di dalam raut muka kemanusiaan. Tidak ada tempat untuk penyuka puisi jika ia lupa akan proses puisi yang berasal dari imaji-imaji syair.
Dan – siapakah kita untuk tidak menyukai syair?
* * *
Diksi dan rima bisa dipandang sebagai dominasi dari syair, meskipun untuk puisi baru pun keduanya tidak bisa dipisahkan; hanya saja keestetikan syair tidak bisa dipisahkan dari bentuk tersebut, sehingga visi estetik tersebut harus dijumpai, setia untuk mengikuti pengalaman kemanusiaan yang menyertainya. Lalu bagaimana dengan nuansa balada ketika harus mendeskripsikan peristiwa yang runtut sekaligus singkat pada satu waktu dengan pemilihan diksi dan rima sebagai algojo.
SYAIR BALADA DANU WIRA
Di muka kaki kita bertemu
Di ujung palu di batu nisan itu
Malam berpalukan jingga yang kelu
Awan menghitam bersenda berpalu
…
Nyai Ratna bimbang, ingin pulang
Bauan senja diukur arang
Buih-buih malam bersukma panjang
Kelima puluh hari disepi ruang
…
“Hoi Gobang bapa yang sepi
Aku anakmu siapkan diri
Hendak pulangkan ibu ke mari
Walau aku diamuk lagi”
…
Terenyuh hati Si Gobang
Hatinya tumpah larang
Dipeluknya Danu Wira yang datang
Sepuhlah mimpi yang hilang.
(24 Desember 2017)
Syair di atas masuk ke salah satu dari ketujuh syair yang dituangkan ke dalam buku kumpulan syair. Syair balada tersebut memperlihatkan konsistensi penyair untuk mencoba berekspresi dan bereksperimen dengan diksi dan rima yang membentuk syair, hanya saja kita tidak melihat penghakiman kedua unsur tersebut, sebab yang menjadi algojo adalah penyair itu sendiri – Anisa, yang terlihat mengelabui diksi dan rima untuk melengkapi baladanya tanpa harus meringkas cerita, sehingga imaji suasana terlihat sangat miris, tragis sekaligus megah. Kesampingkan saja kata: kelu, bonang, perigi, kenduri, karena kesemuanya masih bisa kita mengerti tanpa harus meniti kamus bahasa.
Pada bagian ini Anisa memaksa kita untuk menelaah jagat sunyi tentang beberapa anak manusia, kita tidak mengenal mereka, Danu Wira, Nyai Ratna, atau pun Si Gobang dan permasalahan yang ketiganya alami. Jelasnya kita seperti di medan pertempuran berulang antara Danu Wira dan Si Gobang: //“Hoi Gobang bapa yang baik/ Aku anakmu siapkan batik/ Hendak pulangkan ibu ke titik/ Walau aku diamuk balik”//. Perjalanan hidup manusia akan menjadi pertanyaan tanpa henti, pengalaman yang dialami Danu Wira menampar kecenderungan anak-anak muda zaman sekarang.
Dalam sebuah dongeng, kita melihat kemustahilan yang dimulai dengan hatta, dan tugas penyair adalah mematangkan dan mengelola gagasan, sehingga konteks ruang dan waktu dalam dongeng tersebut tetap berperan aktif di zaman sekarang. Balada Danu Wira bukan sekadar dongeng atau kisah miris sebuah keluarga, namun kenyataan yang dapat terjadi pada siapa saja. Terlepas bagaimana Anisa mengambilnya, apakah fakta atau fiktif, banyak sekali pergeseran makna tentang sosok ibu saat ini, atau sosok Danu Wira di zaman sekarang yang tanpa tedeng aling mencantumkan nama kekasihnya daripada nama ibunya di ucapan terima kasih skripsinya atau di tugas akhirnya, dan berkata: “terima kasih sayang, karena sudah menemaniku dari nol”.
Lanskap alam dan ruang diletakkan sebagaimana ciri khas syair, perlambang itu membuka kemungkinan ambigu, dengan demikian sebuah ekspresi kehidupan manusia yang terpencil, terasing, murung, tetap masih bisa dirasakan; //”Oh ibu yang dibijikan gerhana/ Aku ingin merangkulmu dalam doa”// Perjalanan panjang dari seorang anak untuk kembali bertemu dengan sang Ibu yang diekspresikan dengan berbagai macam ihtiar.
Selanjutnya kita disuguhkan pertarungan tidak berimbang, kita pun menebak-nebak tentang latar belakang konflik antara Danu Wira dan Si Gobang. Kita juga bertanya-tanya mengapa Si Gobang sampai mengurung Nyai Ratna, istrinya, yang notebene ibunya Danu Wira? Balada tersebut tetap membawa kisah misterinya sendiri, pengembaraan Danu Wira untuk bertemu kembali dengan ibunya berakhir manis dan penuh keharuan saat Si Gobang melembutkan hatinya, menerima bilur-bilur seorang anak (yang mungkin sudah lama terpisah darinya).
Didaktik, Sebuah Penerimaan
Syair identik dengan mengobral kata arkais untuk mempertajam mantra dan imaji, sehingga rima dan irama asyik masyuk menjelaskan keindahan saat diucap. Itulah kenapa syair lebih mudah dimengerti ketika sudah dibacakan, sebab kita bisa melihat secara eksplisit ketika kata arkais itu diucapkan. Ketidaklaziman penyair dalam memilih kata arkais dibutuhkan demi mendukung keindahan syairnya. Anisa menyadarkan kita tentang pembelajaran; pemilahan kata, menggabungkannya dengan keadaan seseorang untuk kemudian membawanya ke tengah-tengah kita.
Terlalu dangkal jika syair yang bagus hanya dipandang dari pemilihan kata arkais saja, Baik syair (puisi lama) ataupun puisi baru (modern) adalah permainan tanpa akhir; begitu sampai pada akhir sebuah sajak, kita harus memulai dari awal lagi, bukan karena mengapa, sebab unsur pembangun puisi membantu kita untuk mencari celah kosong di antara anasir yang mengambang.
Sepilihan kata menjadi sangat penting untuk syair agar makna tidak terbuang percuma, meski pada akhirnya kita juga dipaksa untuk menerjemahkan lambang-lambang yang ditulis oleh penyair, misalnya, //Adinda Mangi merasuk sukma// dan //Ada bintik jingga di wajahnya//, kalimat tersebut mudah diartikan, namun untuk memahaminya kita harus membuka kulitnya, membelah dagingnya, dan menelisik tulang putihnya untuk sampai pada sumsum tulangnya. Itulah kenapa Syair menjadi penting untuk dianalisis dari segi bahasa yang secara tidak langsung dapat mengelabui kita sebagai pembaca, meskipun kita mengetahui apa maksud yang ingin disampaikan oleh penyair.
Di antara celah sumsum itulah kita menelisik matriks dan menerjemahkan makna secara kolektif tentang makna yang dibalut mantra-mantra arkais. Kita dibuat terkejut, oleh misalnya, keteraturan yang tidak teratur secara penuh pada Syair Balada Adinda Mangi. Balada yang dipahami secara makna namun disamarkan oleh arkais, mungkin, sedikit submersif. Pada balada tersebut, kita tidak lagi mencari isi; pemaknaan, karena sudah dipuaskan oleh bait pertama, keduanya, dan seterusnya.
SYAIR BALADA ADINDA MANGI
…
Kuncup dirayu jelantik muda
Adinda Mangi mengukut rasa
Inginnya adalah cahaya warna
Biar wanita tak di ambang murka
“Aku ingin berhias ilmu
Mudaku masih jembar laku
Dengar aku penguasa biru
Dengar aku ayah ibu”
…
(Desember 2017
Perulangan kata “penyesalan” pada syair tersebut menjadi kentara, selain untuk menambah warna syair, juga penegasan pada pembaca untuk mengetahui konflik yang dialami oleh Adinda Mangi. Jeritan kecil yang tumbuh semakin membesar membentuk ide-ide tentang kesenjangan wanita untuk mengakses keilmuan – yang tak pernah mengecap pendidikan. Kita harus hati-hati untuk menentukan makna dari sebuah syair: tak pernah, belum pernah, atau bahkan tidak dialami secara fakta, ternyata masih dialami oleh beberapa wanita di pelosok negeri dalam berpendidikan.
Meskipun yang terlihat, seolah wanita saat ini sudah bisa mengakses pendidikan, namun pada kenyataannya tidak seperti yang terlihat oleh penyair, //Inginnya adalah cahaya warna/ Biar wanita tak di ambang murka//
Lalu bukankah wanita saat ini sudah bisa mengakses pendidikan?1 Bersekolah dan bekerja layaknya pria?2 Bahkan dengan jenjang karir yang lebih dari seorang pria3. Wanita masih dianggap mahluk yang lemah, bahkan terlampau rendah untuk beberapa pemikiran, mereka hanya dianggap komoditas berharga untuk bidang-bidang tertentu dan parahnya komoditas itu merujuk pada objek seksualitas belaka atau sekadar formalitas untuk mengisi kekosongan, sesuatu yang bisa dikendalikan dan dipermainkan kelembutan hatinya.
Kita jadi teringat sajak yang berjudul Akuarium dari penyair besar Indonesia, gambarannya, kita hanya melihat ikan-ikan jilah di dalam akuarium dengan macam-macam hiasan didalamnya. Bayangkan salah satu dari ikan tersebut adalah Adinda Mangi yang kemudian memberontak menjerit-jerit tentang masa mudanya yang tak ingin terbuang percuma; //Aku ingin berhias ilmu/ Mudaku masih jembar laku…//, bukan sebagai wanita pengisi formalitas belaka dan menumpulkan ilmu yang didapatnya; //Aku mau hidup/ Bukan dalam ilmu yang redup…//.
Jawaban yang bisa diberikan1, 2, 3 adalah “ya”, untuk dewasa ini, lain halnya dengan Adinda Mangi, ia masih merutuki situasi dan kondisinya; //Aku mau hidup/ Bukan dalam jiwa yang tutup”// – wanita mungkin pernah hidup dan hidupnya mereka terkungkung oleh segala kebutuhan dimana pria tidak berperan sebagai laki-laki, mereka hidup hanya untuk memuaskan pemikiran subjektivitas kalangan tertentu, bahkan, bukan tidak mungkin juga, orang tua, yang seharusnya menjadi pendukung atau pelindung malah menjadi salah satu untuk kejatuhan jiwa seorang wanita.
Mereka paham jika ilmu yang didapat bisa dimanfaatkan oleh para pemodal – sekaligus jiwa keibuan mereka, sehingga mereka bisa menjadi semut pekerja yang suatu saat dapat diganti, dapat dibayar murah, bahkan tanpa upah. Realita yang terjadi saat ini adalah ketika banyaknya pabrik yang didominasi oleh pekerja wanita dengan ilmu yang semakin hari semakin redup, mereka memaksa dirinya untuk menutup jiwa agar paling tidak mendapatkan gaji tiap bulannya, sementara para pria menunggu kepulangan mereka di depan pabrik sambil merokok di atas motor. Mungkinkah wanita tersebut yang digambarkan oleh Adinda Mangi, //… jiwa yang tutup”//?
Gambaran umum pada Balada Adinda Mangi menunjukkan olahan kata arkais yang khas digunakan pada syair, dan penyair berhasil menjinakkannya sehingga enjambemen terasa mengalir apa adanya, tanpa pemaksaan bahwa kata arkais itu harus ada. Tentunya penyair memilih tema dengan sangat matang sehingga makna dapat ditebak secara kolektif. Tentunya hak makna ada pada penyair, praduga ada pada pembaca yang terus membuat pertanyaan tentang balada tersebut.
Next —

Well done thank sir